Mengenal Ahlussunnah wal Jamaah: Jalan Tengah Umat Islam

Ahlussunnah wal Jama'ah atau yang biasa disingkat Aswaja merupakan salah satu paham dalam Islam yang berpegang teguh pada ajaran Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Secara bahasa, ahlun berarti keluarga atau golongan, as-sunnah berarti jalan atau tuntunan Nabi Muhammad SAW, sedangkan al-jama’ah berarti kelompok atau umat yang bersatu dalam kebenaran. Dengan demikian, Ahlussunnah wal Jamaah dapat dipahami sebagai kelompok umat Islam yang setia mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diamalkan oleh para sahabat.

Menurut para ulama, termasuk Ahmad Shiddiq, Ahlussunnah wal Jama'ah adalah ajaran Islam yang murni, yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah, serta dipraktikkan secara konsisten oleh Rasulullah dan para sahabat. Ajaran ini kemudian diwariskan secara turun-temurun kepada generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga para ulama setelahnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya kitab dan karya ilmiah yang ditulis oleh para ulama sebagai bentuk penjagaan terhadap kemurnian ajaran Islam.

Dalam sejarahnya, Aswaja hadir sebagai jalan tengah di antara berbagai aliran teologi yang berkembang di dunia Islam. Salah satu aliran yang muncul adalah Mu’tazilah, yang dikenal sangat mengedepankan akal dan pemikiran rasional. Kelompok ini meyakini bahwa manusia sepenuhnya memiliki kebebasan dalam menentukan perbuatannya. Di sisi lain, terdapat pula aliran Jabariyah, yang berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kehendak sama sekali karena semua perbuatan telah ditentukan oleh Allah.

Ahlussunnah wal Jama'ah hadir untuk menengahi dua pandangan ekstrem tersebut. Aswaja mengajarkan bahwa manusia memang memiliki usaha dan ikhtiar, tetapi tetap berada dalam kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Dengan demikian, ajaran ini mencerminkan keseimbangan antara akal dan wahyu, antara usaha manusia dan ketentuan Allah.

Dalam konteks sejarah dan politik Islam, penganut Aswaja dikenal juga sebagai kaum Sunni, yang merupakan mayoritas umat Islam di dunia. Perbedaan istilah Sunni dan Syiah pada awalnya muncul karena perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah SAW. Seiring berjalannya waktu, perbedaan ini berkembang hingga mencakup aspek teologi dan fikih.

Dalam bidang fikih, kaum Sunni mengikuti salah satu dari empat imam mazhab besar, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Di Indonesia sendiri, mayoritas umat Islam mengikuti mazhab Syafi’i. Hal ini menjadikan corak keberagamaan masyarakat Indonesia cenderung moderat, santun, dan mengedepankan keseimbangan dalam beragama. 

Ahlussunnah wal Jama'ah juga dikenal dengan nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman hidup umat Islam. Di antaranya adalah:

  • Tawassuth, yaitu bersikap moderat dan tidak berlebihan,
  • I’tidal, yaitu bersikap adil dan lurus,
  • Tawazun, yaitu menjaga keseimbangan dalam segala hal,
  • Tasamuh, yaitu bersikap toleran terhadap perbedaan,
  • Amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Nilai-nilai tersebut bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, serta menjadi ciri khas ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Nilai inilah yang terus dijaga dan diamalkan oleh para ulama, khususnya para wali dan pendakwah Islam di Nusantara, sehingga Islam dapat berkembang secara damai dan diterima oleh masyarakat.

Dengan demikian, Ahlussunnah wal Jama'ah bukan hanya sekadar aliran atau paham, tetapi merupakan jalan hidup umat Islam yang mengedepankan keseimbangan, persatuan, toleransi, serta akhlak mulia. Inilah warisan berharga para ulama yang hingga kini tetap relevan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Bersama pesantren, mari kita rawat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah demi lahirnya generasi santri yang berilmu dan berakhlak.


0 Komentar