Tawazun: Harmoni Hidup Dunia dan Akhirat

  

        
Di tengah kesibukan hidup, tawazun mengajak kita menjaga keseimbangan—antara pikiran, perasaan, dan tujuan hidup.

Kata tawazun diamabil dari al-Waznu atau al-Mizan yang berarti penimbang. Yakni bersikap harmonis antara orientasi kepentingan individu dengan kepentingan golongan, antara kesejahteraan duniawi dan ukhrawi, antara keluhuran wahyu dan kreativitas nalar. Keseimbangan di sini adalah bentuk hubungan yang tidak berat sebelah (menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain). Tetapi, masing-masing pihak mampu menempatkan dirinya sesuai dengan fungsinya tanpa mengganggu fungsi dari pihak yang lain. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya kedinamisan dalam hidup.

Tawazun yaitu sikap yang dapat menyeimbangkan diri seseorang pada saat memilih sesuatu sesuatu sesuai kebutuhan, tanpa condong atau berat sebelah terhadap suatu hal tersebut. Namun banyak orang yang tidak bisa bersikap tawazun, karena nafsunya selalu mempunyai sikap materialistis. Seseorang yang materialisits hanya menggunakan jasad saja untuk melakukan segala kegiatannya. Tanpa berfikir rasa dan atau menggunakan hatinya. Sebaliknya ada juga seseorang panthaisme, yaitu orang yang hanya mengedepankan jiwa/ruh/hati saja, tanpa akal dan jasad. Semua diserahkan pasrah tawakkal hanya kepada-Nya. Bahkan yang ekstrim adalah seseorang atheis, hanya mengandalkan akal pikiran/rasio belaka tanpa melibatkan hati maupun kekuatan raganya. Semua sikap dan tindakannya berdasarkan logika tanpa menghadirkan jiwa dan mengolah rasa di dalam hatinya.

Tawazun sangat erat kaitannya dengan pengaturan dan pembagian waktu. Mengapa kita harus mempunyai perencanaan dan mengatur kegiatan? Agar seseorang mencapai tujuan hidup yang tepat, karena tanp apengaturan hidup yang matang kemungkinan untuk mencapai keberhasilan sangat kecil.

0 Komentar