Bulan Safar Tiba! Mari tunjukan Energi Positif Belajar dan Mengaji Tanpa Henti dari Balik Dinding Pesantren

 

Waktu berputar begitu cepat, dan tanpa terasa kita kini kembali dipertemukan dengan bulan Safar, bulan kedua dalam penanggalan kalender Hijriah.

Ketaatan para santri di bulan Safar ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa tidak ada bulan yang buruk dalam Islam. Setiap detiknya adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika para santri bisa melipatgandakan semangat ibadahnya, mengapa kita tidak?

Setelah salat subuh, alih-alih kembali ke tempat tidur, santri langsung melingkar membentuk halaqah untuk setoran hafalan (murojaah) atau mendengarkan kajian bandongan dari Kyai. Juga malam yang hidup dengan diiringi lantunan Al-Qur'an dan selawat bergema dari setiap sudut kamar, menciptakan benteng spiritual yang kuat.

Mempertahankan semangat belajar 24 jam tentu bukan hal yang mudah. Namun, para santri memiliki cara terbaik yang membuat mereka tetap giat mengaji di bulan Safar. Dengan meluruskan niat mereka menanamkan dalam hati bahwa belajar bukan demi nilai atau pujian, melainkan untuk mengangkat kebodohan diri dan mencari rida Allah.

Tak hanya itu melihat temannya sedang memegang mushaf atau menghafal kitab, seorang santri akan langsung termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Kompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat) inilah yang menghidupkan suasana belajar. juga dengan ketaatan pada kyai dan asatidz menjadi bahan bakar spiritual yang membuat rasa lelah saat mengaji berubah menjadi kenikmatan.

Dari balik dinding-dinding pesantren, para santri sedang mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga tentang bulan Safar. Bulan ini bukanlah waktu untuk membatasi diri atau takut melangkah. Sebaliknya, Safar adalah waktu yang tepat untuk memperluas wawasan, memperdalam ngaji, dan membuktikan bahwa dengan iman dan ilmu, setiap bulan adalah bulan yang penuh dengan prestasi dan berkah.

Jangan biarkan bulan Safar berlalu begitu saja tanpa ada satu pun kitab yang kita khatamkan atau satu lembar pun ilmu yang kita pelajari. Bersihkan debu di atas mushafmu, buka kembali catatan ilmumu, dan mulailah melangkah dengan optimisme.

Mari kita jadikan bulan Safar ini sebagai momentum untuk  mengawali hari dengan doa, mengisinya dengan karya dan ngaji, serta menutupnya dengan sujud syukur. Semoga pancaran energi positif dari sudut-sudut pesantren ini menular ke dalam hati kita masing-masing, menjadikan kita pribadi yang lebih taat, lebih pintar, dan lebih bijaksana.

Selamat menyambut bulan Safar. Selamat belajar, selamat mengaji, dan mari melangkah maju tanpa ragu!

0 Komentar